saya bukan orang yang boros, dalam artian masih bisa menyisihkan gaji tiap bulan untuk ditabung. setiap hari gajian, langkah pertama yang saya lakukan adalah mengamankan sekian persen dari gaji untuk dipindahkan ke rekening tabungan. baru berikutnya membayar tagihan2 rutin, dan sisanya untuk kebutuhan sehari2. saya juga cukup disiplin menggunakan kartu kredit, sehingga tagihan tiap bulan bisa selalu saya bayar full.
sepertinya ngga ada masalah dengan keuangan ya? tapi sejak menikah saya merasa perlu untuk memantau ke mana saja larinya penghasilan perbulan, dan apakah sekian persen yang saya sisihkan untuk tabungan sudah cukup atau masih bisa ditambah, mengingat banyaknya kebutuhan di tahun-tahun yang akan datang yang harus diantisipasi dengan mempersiapkannya sejak sekarang. pake microsoft excel? duh, program ini sudah saya gunakan sekian tahun terakhir, dan saya mulai bosan dengan tampilannya.
maka saya pun browsing software manajemen keuangan yang sederhana saja di google (kalo bisa sih dapet yang freeware). baca2 resensi sana sini, akhirnya saya memutuskan untuk download software Money Manager Ex. dan surprise banget saat menginstall-nya, ternyata ada opsi bahasa Indonesia! penggunaannya pun ngga sulit. kita ngga perlu dipusingkan dengan istilah2 akuntansi yang rumit-rumit. juga dilengkapi dengan chart-chart yang sangat membantu untuk menganalisa apakah pengeluaran vs pemasukan saya 'besar pasak daripada tiang'. saya baru seminggu ini menggunakannya, dan belum menemukan kendala apapun.

Saturday, June 27, 2009
Money Manager Ex
Friday, May 29, 2009
Toga Mas Surabaya



Ini bukan rumah nenek. Tapi toko buku bersuasana rumah nenek.
Di mana? Toga Mas Surabaya. Betah banget berlama-lama di sini.
Saturday, April 18, 2009
Dracula by Bram Stoker
Saya jarang atau bisa dibilang nyaris ngga pernah nonton film horor. Alasannya? Nonton film itu hiburan, ngapain bayar mahal-mahal hanya untuk ditakut-takuti. Oke, alasan sesungguhnya adalah karna saya penakut. Saya lebih memilih berani ke kamar mandi malem-malem daripada semaleman menahan diri karena takut keluar sendirian.
Sampai beberapa minggu kemarin saya ikutan adik saya membaca 4 novel serial The Twilight Saga. Sebelumnya saya ogah baca Twilight karena ceritanya tentang vampir. Novel vampir = novel horor. Tapi ternyata ceritanya cukup ringan, dan saya enjoy bacanya. Karna cerita vampir ternyata ngga serem-serem amat, maka saya pun iseng-iseng beli novel Dracula - Bram Stoker. Partner saya (yang ngga suka baca novel) bilang, "Ngapain beli novelnya, filmnya uda ada kok. Yang main Johnny Depp." Partner saya ini ngga paham bahwa bagi saya membaca buku sambil berimajinasi juaaaauuh lebih menarik daripada nonton filmnya.
Dan... wuih, saya salah kira. Ternyata Dracula adalah novel horor. Dan asli serem banget. Tapi saya ngga bisa dengan mudah menutup novel ini dan berhenti baca. Penasaran banget. Kalo di Twilight, membaca kisah vampir dan wolverine sepertinya biasa-biasa aja. Sedikit bumbu ketegangan di sana-sini, tapi secara umum kesannya seperti baca Harry Potter. Kalo Dracula? Wuih, ngeri dan tegang! Akhirnya saya mengalami lagi fase ngga berani ke kamar mandi malem-malem setelah menamatkan novel ini.
Monday, April 13, 2009
Kuliah di Belanda?

Belanda.
Tulip yang mekar, kincir angin berputar kencang, keju yang lezat, dan benua Eropa yang mengundang untuk dijelajahi.
Kata-kata itu berlompatan di kepala saya jika mendengar seseorang menyebut negeri Belanda.
Sekolah ke Belanda? Ngga berani mimpi karena saya ngga bisa bahasa Belanda.
Sampai tahun lalu saya bercakap dengan Rining, seorang teman kuliah S1, di yahoo messenger. Surprise banget. Karna ternyata Rining sedang mengambil kuliah master di Belanda. Tepatnya di Technische Universiteit Eindhoven. Wow! Menurut Rining, ngga perlu menguasai bahasa Belanda untuk bisa belajar di Belanda. Perkuliahannya dalam bahasa Inggris. Diperlukan nilai TOEFL ITP minimal 550 atau IELTS 5.5-6.5 (bervariasi tergantung program studi yang dipilih) untuk mendaftar universitas di sana. Kalo ngga ada biaya, bisa apply beasiswa. Rining sendiri kuliah dengan beasiswa TU/e. Beasiswa ini dia peroleh setelah aplikasinya ke universitas tersebut dinyatakan diterima. Beasiswa kejutan, kata Rining, karna sebelumnya dia ngga menyangka akan ditawari beasiswa.
Sebagai karyawan kantoran biasa yang ngga bakal sanggup membiayai kuliah sendiri ke luar negeri, maka saya pun mulai googling ke sana kemari, mencari info beasiswa. Sempat juga browsing website TU/e, tapi course yang saya minati ngga ada. Akhirnya ketemu dengan website NESO Indonesia, yang komplit mengulas tentang studi di Belanda. Di sini juga tersedia info beasiswa StuNed (Studeren in Nederland) dari Pemerintah Belanda.
Ada dua jenis institusi pendidikan tinggi di Belanda, yaitu universitas riset (bahasa Belandanya universiteit) dan university of applied science (bahasa belandanya hogeschool). Sejumlah 14 universiteit dan 44 hogeschool tersedia di Belanda, tinggal kita tentukan mana program yang kita minati. Info lengkapnya di website Studi di Belanda.
Selain itu, dari hasil browsing ke sana kemari, ternyata ada hal-hal lain yang menarik dari kuliah di Belanda. Mahasiswa yang kuliah di sana ternyata ngga melulu kebanyakan orang Belanda. Mahasiswa asing terbesar di sana adalah dari Jerman, kemudian China, Belgia, Prancis dan Indonesia. Mahasiswa dari Indonesia menempati posisi ke-5 terbanyak. Jadi, selain kuliah di luar negeri, kita juga bisa bersosialisasi dengan teman-teman dari berbagai bangsa dan negara. Saya selalu berminat untuk mengetahui bagaimana Jerman bisa menciptakan linkage antara industri dan institusi pendidikan yang berhasil, atau bagaimana China bisa berkembang pesat setelah runtuhnya komunisme. Ada blog seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Wageningen yang menarik untuk saya ikuti. Salah satu tulisannya yang mencerahkan bisa diklik di sini.
Yah, tugas berikutnya yang menunggu saya, perbaiki bahasa Inggris!
*gambar kincir angin dari sini
*gambar peta belanda dari sini